03 Mei 2009

Kisah Katherine Loebner, Guru Asal Amerika di Samarinda

Setiap pergi ke suatu tempat, tentu ada kesan yang tak bisa terlupakan. Tak terkecuali di Samarinda yang dikenal karena kriuk amplang-nya, atau keindahan ornamen Dayak di beberapa sudut kota. Seperti yang dialami Katherine Loebner (23), satu dari 30 guru bahasa Inggris asal Amerika. Katherine dikirim ke Indonesia untuk mengikuti program “English Teaching Assistant” untuk mengajar selama 10 bulan di sekolah yang ditunjuk oleh Yayasan Fullbright di AS melalui organisasi kerja sama Amerika-Indonesia (Aminef). “Saya merasa begitu beruntung berada di Indonesia. Saya suka belajar tentang masyarakat, agama, makanan dan budaya, khususnya budaya Dayak," kata Katherine Loebner saat ditemui Kaltim Post usai mengajar di SMK TI Airlangga, kemarin.

Masyarakat Samarinda ramah, termasuk anak didiknya di SMK TI Airlangga begitu bersahabat dengannya. Baginya, budaya Dayak memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, meski ia hanya mengenal budaya itu lewat barang kerajinan dan informasi yang terbatas.

Tak heran Katie, sapaan Katherine Loebner, merasa senang tinggal di Samarinda meski dirinya hanya bertugas 10 bulan. ”Saya sudah sembilan bulan di Samarinda. Murid-murid di SMK Airlangga adalah pelajar yang penuh hormat dan keingintahuan mereka tinggi. Kelas saya hampir selalu penuh senyum dan tawa,” sambung cewek kelahiran 10 Juli 1986 silam ini.

Katie menambahkan, suasana di Samarinda sebenarnya sangat bagus, termasuk kafe yang biasanya dijadikan tempat tongkrongan. "Menurut saya café Jarkoejua adalah tempat yang bagus untuk pertemuan dan event edukatif. Saya sering mengajak tim debat saya ke café itu untuk berlatih," ujar cewek asal California ini.

Lalu apa yang paling berkesan selama di Samarinda? Alumnus jurusan komunikasi dan Lewis and Clark College, California ini menjelaskan, pengalaman tak terlupakan adalah sering terjebak banjir.

Apalagi jalur dari tempat tinggalnnya di Jl Wahid Hasyim menuju SMK TI Airlangga di Jl Pahlawan, harus melewati banjir di Jl dr Soetomo. Ia terkadang terlambat mengajar akibat banjir yang membuat kendaraan harus antre, bahkan ada yang macet. “Wah, sering sekali terjebak banjir,” ucapnya tersenyum.

Meski memiliki sederet pengalaman yang terbilang menjengkelkan selama di Samarinda, namun cewek yang doyan amplang dan makanan vegetarian ini tetap berharap suatu saat kelak ditugaskan lagi di Samarinda. “Kalau ditugaskan mengajar di daerah pedalaman yang konon lebih menantang, saya juga siap,” tuturnya.

Selain bercerita tentang pengalamannya selama di Samarinda, ia juga menceritakan kenapa dirinya tertarik menekuni profesi guru. Padahal, disiplin ilmunya dari komunikasi dan seni. “Mengajar berarti belajar. Mengajar merupakan pekerjaan yang mulia,” imbuhnya. (art)

Sumber:
Kaltim Post Online
Sabtu, 02 Mei 2009 , 08:44:00
Kisah Katherine Loebner, Guru Asal AS di Samarinda
Kesal Terjebak Banjir, Doyan Amplang, Kagumi Budaya Dayak