03 Juni 2009

Penelusuran Hutan dan Goa di Pampang Samarinda-Kalimantan Timur


Untuk kesekian kalinya Sanggar Kreatif Airlangga (SKA) melakukan perjalanan yang sangat menarik. Dibawah bimbingan Bpk. Rizal Effendy Panga, S.Pd (topi hijau). Tim SKA melakukan penelusuran Hutan dan Goa di Desa Pampang Samarinda, ikut serta Ms. Katherine Loebner (English Teaching Asisten sekolah kita). Perjalanan yang penuh semangat dengan eksotika alamnya yang sangat indah telah dituangkan oleh Bpk. Rizal dalam sebuah cerita yang menarik berikut ini.

Hutan adalah salah satu aset penting yang patut dilestarikan. Hal ini berkaitan dengan semakin mengecilnya areal hutan akibat penebangan liar maupun kebakaran hutan. Jika hal ini dibiarkan, maka akan berdampak bagi masyarakat yang berada di dekat areal hutan ini. Maka pada 9 Mei 2009, Sanggar Kreatif Airlangga (SKA) SMK TI AIRLANGGA Samarinda, melakukan perjalanan menuju hutan Pampang.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan hutan kepada siswa agar mereka lebih mencintai dan memahami arti pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup makhluk hidup. Teman-teman yang berangkat berjumlah 32 orang, terdiri dari saya selaku pembina SKA, siswa sebanyak 29 orang, 2 orang rekan guru, yaitu Bapak Erwin Widodo dan seorang guru yang berasal dari Amerika Serikat bernama Miss. Katie Lobner (ETA Seklah kita).

Perjalanan kami awali dari SMK TI Airlangga. Sehingga sejak pukul 06.30 Wita teman-teman sudah mulai berdatangan. Saya datang pukul 07.00 Wita. Di sekolah sudah ada beberapa orang siswa. Rencananya perjalanan kami mulai pukul 07.30 Wita, namun ada beberapa siswa yang terlambat karena rumah mereka yang jauh. Sehingga kami harus menunggu hingga pukul 08.00 wita. Pukul 08.00 Wita, kami mulai perjalanan kami.
Sebelum berangkat, kami berdoa terlebih dahulu. Setelah itu, saya memimpin di posisi paling depan dan iring-iringan SKA siap menuju ke Hutan Pampang.

Tampak wajah kegembiraan di wajah-wajah mereka. Dari Jalan Pahlawan kami menuju ke Jl. Dr. Soetomo terus Jl. M. Yamin terus ke Sempaja. Di tengah perjalanan salah satu teman-teman Christian Nuel salah jalan. Ia menuju ke arah Desa Pampang. Kami harus menunggunya lebih dari 15 menit sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan meminta Dwi Hendra dan Patria Yusmirza untuk menunggu Nuel.
Perjalanan kami lanjutkan, setelah sampai di sempaja ujung kami belok ke kanan dan melalui jalan yang berlubang. Melalui jalan ini seperti off raod saja. Kami harus konsentrasi karena banyak sekali lubang yang cukup dalam. Mesin motor yang saya kendarai beberapa kali harus rela terbentur batu. Meskipun demikian kami sangat senang. Dari kaca spion tampak iring-iringan 17 motor berjejer dengan rapi layaknya konvoi.

Setelah melalui daerah Batu Besaung, jalan mulai nampak mulus. Teman kami yang salah jalur pun telah bergabung bersama iring-iringan kami. Kami memacu kendaraan kami lebih cepat, karena panas matahari mulai menyengat kami. Patria dan Raditia yang posisinya memacu kendaraannya dari urutan paling belakang untuk mengambil gambar video iring-iringan kami hingga ke urutan terdepan. Setelah itu, ia menunggu kami satu persatu dengan kamera mengarah ke arah kami.

Saya dikagetkan oleh sebuah lubang di tengah jalan yang cukup dalam menghadang kami. Kendaraan saya hampir oleng, namun masih dapat saya kuasai. Patria yang berada dibelakang saya pun tidak mengetahui lubang ini dan mengalami hal yang sama seperti yang saya alami. Saya kaget, karena Patria hampir saja menabrak kendaraan seorang bapak yang sedang memarkir kendaaraannya di pinggir jalan. Gerak repleks bapak itu membuatnya terhindar dari benturan kendaraan Patria. Namun, Keterkejutannya membuatnya marah. Kami memohon maaf kepada bapak itu. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama kemudian kami sampai di sebuah rumah warga yang memiliki jasa parkir di halaman rumahnya. Kami menyusun kendaraan kami. Kami menerima 17 lembar tiket sesuai dengan jumlah kendaraan kami.

Kurang lebih 45 menit kami lalui untuk sampai ke tempat ini. Setelah beristirahat sejenak, kami memulai ekspedisi kami menuju ke hutan Pampang. Dari rumah warga kami berjalan di jalan aspal kira-kira ½ kilometer, kemudian belok ke kanan melalui jalan tanah yang dibuat oleh perusahaan batubara.

Pertama kali saya ke tempat ini, daerah ini masih merupakan hutan yang hijau, namun sekarang sudah tandus. Tampak serpih-serpih batubara bercampur dengan tanah, hanya ada satu pohon besar di tengah areal penumpukan batubara ini. Namun pohon ini tidak begitu rindang. Di sebelahnya tampak hamparan serpih-sepih batubara. Sepertinya tempat ini, sudah ditinggalkan oleh perusahaan. Di sebelah kiri jalan tampak beberapa pohon kecil yang tidak begitu banyak ditanam. Sebagian daerah di hutan ini telah rusak akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Namun, hal ini tak mengurangi semangat kami untuk menelusur hutan ini lebih jauh lagi. Tampak sebagian teman-teman sudah asik dengan kameranya berfoto ria. Saya pun tak mau ketinggalan. Berbagai gaya coba saya lakukan untuk mengekspresikan kegembiraan yang ada dalam hati ini. Sekitar 10 menit kami berjalan, kami melintasi salah satu air terjun yang ada di hutan ini. Abong langsung mencari posisi untuk difoto dan tidak mau pergi sebelum difoto. Kami tertawa melihat tingkahnya.

Kami mulai memasuki hutan dengan jalan menurun. Tanjakan dan turunan dengan jalan setapak kami lalui dengan kegembiraan. Walupun demikian peluh-peluh keringat kami mulai menetes di sekujur tubuh. Bunyi aliran air yang berada di sebelah kiri kami memberikan suasana alam yang jarang kami dengar. Kami terus berjalan memasuki hutan tersebut. Di tengah hutan kami menyaksikan daerah yang cukup luas yang sudah ditebang, meskipun sudah tumbuh semak belukar yang membuat daerah itu hijau tapi hamparan hijau itu tak dapat melindungi kami dari sengatan matahari yang mulai terasa di kulit kami. Tidak ada pohon-pohon besar yang menjadi tempat bernaung.

Perjalanan kami dilanjutkan dengan menyeberangi sungai kecil di hutan itu. Satu persatu kami menyeberangi sungai itu. Kami melewati bendungan batu alami yang membelah sungai itu. Sehingga sepatu kami tidak basah. Setelah melewati sungai itu kami berhadapan dengan sebuah tanjakan yang cukup tinggi. Selain itu, kami juga disambut pohon-pohon besar yang rindang. Bahkan, sinar matahari enggan menyentuh kulit kami. Kali ini, jalan yang kami lalui lebih menantang karena selain jalannya sempit hanya sekitar 2 rentangan jari tangan, di sebelah kanan kami juga terdapat jurang yang lumayan dalam.

Semakin ke dalam hutan semakin terasa kesegaran udaranya. Terdengar suara binatang yang bersahut-sahutan melintas di telinga kami. Keringat kami semakin deras mengucur dari tubuh kami. Kami beristirahat sejenak kira-kira sekitar lima menit, sambil menunggu teman-teman yang lain yang masih jauh dibelakang. Setelah 30 menit berjalan sampailah kami di sebuah rumah tanpa dinding yang berada di tengah hutan itu. Daerah ini diberi nama Base Camp 2 oleh rekan-rekan yang sering kemah di tempat ini.
Kami tiba di Base Camp 2 ini pukul 10.00 Wita. Kami bertemu teman-teman dari

Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) STIMIK. Mereka sudah 2 hari di tempat ini. Mereka mendirikan 2 tenda di pinggir sungai. Tampak api unggun kecil yang menyala untuk mengusir nyamuk dan agas (binatang kecil pemakan darah). Setelah kami berkenalan kami menggelar terpal di rumah tadi tak jauh dari tenda mereka. Bedanya kami berada lebih tinggi dari tempat mereka mendirikan tenda. Kami beristirahat melepas lelah dan penat. Tak terasa 30 menit sudah kami beristirahat. Saya memberikan komando kepada semua teman-teman untuk bersiap-siap melakukan penelusuran gua.

Saya menugaskan Dwi Hendra untuk berada di posisi terdepan sebagai penunjuk jalan. Kami beriringan satu persatu mengikuti Dwi Hendra. Baru 2 menit berjalan kami harus mendaki batu sungai yang besar. Satu persatu teman-teman mulai mendaki. Ketika giliran Nurul, ia terpeleset dan kakinya terbentur batu. Meskipun terasa nyeri, namun ia tetap semangat untuk mendaki jalan yang semakin lama semakin tinggi. Hendra menggunakan tali untuk membantu teman-teman yang lain. Nuel yang memegang kamera mengabadikan peristiwa tersebut melalui kameranya. Keringat yang tadinya sudah kering, kini mulai membasahi tubuh kami lagi. Kemiringan tebing tersebut kira-kira 70 derajat. Namun dengan semangat yang ada pada diri kami, kami tetap berusaha melalui tebing ini.

Terlepas dari tebing ini, kami harus melompati aliran air selebar satu meter dan meneruskan perjalanan dengan kondisi semakin menanjak. Beberapa siswa ada yang terpeleset karena jalannya licin. Kami terus mendaki jalan tersebut. Beberapa pohon besar yang tumbang merintangi jalan yang kami lalui. Sebagian teman-teman naik ke atas batang pohon tumbang itu, sebagian lagi menunduk dan merangkak melalui celah di bawah pohon tumbang itu. Semakin menanjak kaki kami terasa semakin pegal, keringat kami pun semakin deras. Bahkan persediaan air minum sampai habis. Sebagai alternatif, beberapa teman-teman mengisi botol-botol dengan air di sungai kecil yang mengalir di hutan tersebut dan meminumnya untuk menghilangkan rasa haus.

Setelah perjalanan mendaki sekitar satu jam kami sampai di mulut goa. Teman-teman yang lain kami minta untuk menunggu dulu. Saya, Patria, Dwi Hendra, dan Anggun melakukan survei lokasi demi keselamatan kami bersama. Sebagian mulut goa itu tertutup pohon yang tumbang. Kami harus berhati-hati karena mulut goa itu langsung menurun. Kami harus melalui jalan berbatu. Sesamapainya di mulut goa, kami melihat batu seperti moncong babi jika dilihat dari bawah dan seperti kelelawar jika dilihat dari atas. Batu tersebut terbentuk dari tetesan-tetesan air dari atap gua.

Kami melanjutkan penelusuran goa lebih dalam lagi. Jalan di dalam goa ini tidak mulus, tanjakan dan jalan menurun disertai tumpukan batu-batu harus kami lewati. Setelah bertemu dengan ruangan yang cukup luas di dalam gua dengan mulut gua yang lebih kecil. Kami memutuskan untuk menjemput teman-teman yang lain. Saya, Patria, dan Anggun tetap berada di dalam gua. Sementara Dwi Hendra memandu teman-teman yang lain untuk mulai melakukan penelusuran gua.

Sambil menunggu, saya dan beberapa teman-teman yang berada di dalam gua berdiskusi tentang gua tersebut. Kami merasa bersyukur dapat melakukan perjalanan ini, karena kami adalah sebagian orang yang telah menelusur goa. Tak lama kemudian, seberkas cahaya senter dari bawah kami menyala. Itu menandakan, teman-teman yang lain sudah dekat. Teman-teman pertama yang sampai adalah Riski dan Siti Al Maqiah. Setelah berkumpul semua, kami berbincang-bincang untuk melanjutkan penelusuran ini atau tidak. Kami memutuskan untuk menyurvei dulu lokasi perjalanan kami berikutnya.

Saya, Patria, dan Dwi Hendra masuk ke dalam goa melihat kondisi goa yang lebih dalam lagi. Jalan yang curam pun kami lalui. Hal ini kami lakukan untuk memastikan jalan yang akan dilalui oleh teman-teman kami cukup aman. Kami menelusur goa lebih dalam. Penelusuran ke ruang goa yang lebih dalam diperkirakan sekitar 10 menit. Di dasar goa banyak sekali kotoran kelelawar. Bau yang menyengat, cukup membuat kami untuk menutup hidung kami dengan slayer yang kami bawa.

Kami sempat berfoto di dalam goa ini. Setelah diskusi, kami memutuskan untuk tidak menruskan penelusuran ke dalam ruang goa ini. Hal ini kami lakukan demi menjaga keselamatan teman-teman yang lain. Jalan yang curam, licin, dan tumpukan-tumpukan batu membuat kami ragu untuk mengajak teman-teman kami ke dalam goa ini.
Setelah kami keluar, kami hanya mengajak teman-teman yang lain hanya sampai di ruang tengah dalam goa ini. Meskipun hanya sampai di ruang tengah, namun banyak hal menarik di ruangan goa ini. Di ruang ini terdapat batu stalagtit dan stalagmit yang terbentuk akibat tetes-tetes air yang menetes dari langit-langit goa. Stalagtit dan stalagmitnya berbagai bentuk. Dari yang kecil hingga yang besar. Bahkan, di atap goa ini ada batu yang mirip sekali dengan pulau Kalimantan. Dengan posisi tegak. Yang jelas, ruangan yang dingin dan menarik ini sukar untuk kami lupakan.

Setelah mengamati dan mengambil beberapa foto di dalam goa ini, kami memutuskan untuk menyudahi penelusuran di dalam goa ini. Kami keluar goa melalui jalur yang berbeda dengan jalan kami masuk. Celah yang tidak terlalu besar di atas kami dengan kemiringan sekitar 70 derajat, membuat kami tertantang untuk melewatinya. Kami menggunakan dua buah tali untuk keluar dari ruangan goa ini.

Setelah satu persatu teman-teman keluar dari dalam goa. Kami melanjutkan perjalanan menurun, kembali ke Base Camp 2. Perjalanan pulang terasa lebih cepat, tetapi kami harus lebih berhati-hati. Jalan yang kami lalui licin karena baru saja hujan. Meskipun sudah berhati-hati, beberapa di antara kami banyak sekali yang terpeleset. Bahkan, Bayu terpeleset lebih dari lima kali. Meskipun lebih ringan, kami melewati tebing dengan hati-hati hingga kami harus memegang akar-akar pohon agar kami tidak terpeleset di tebing.

Laporan Perjalanan Sanggar Kreatif Airlangga
Oleh : Rizal Effendy Panga, S.Pd.